Jumat, 28 Oktober 2016

Kenapa Orang Mulai Terpikat dengan Kuningan – Jawa Barat

Ada yang belum tahu Kuningan – Jawa Barat? Atau, ada yang sering mendengar, namun tidak tahu di mana sebenarnya Kota Kuningan berada?
Sebagai gambaran singkatnya; Kuningan adalah salah-satu kota mungil yang terletak di Provinsi Jawa Barat. Tempat yang terkenal dengan sebutan “kota kuda” ini berdekatan dengan Cirebon (sebelah utaranya), Brebes (sebelah timurnya), Majalengka (sebelah baratnya) dan Ciamis – Cilacap (sebelah selatannya).
Kalau nama kota Bro-Sist sering disebut di media massa atau televisi, apa akan langsung tertarik?
Demikian juga yang daku rasakan. Semakin hari, nama Kota Kuningan semakin ‘diakrabkan’ dengan pemirsa yang lebih luas. Salah-satu contohnya ketika musim liburan kemarin. Dulu, rasanya tak ada jurnalis yang masuk ke area wisata yang ada di Kabupaten Kuningan.
Namun belakangan, ada beberapa stasiun televisi nasional yang memberikan laporan langsung dari lokasi wisata di Kuningan. Dari sekian banyak destinasi indah dan terkenal di Indonesia, alhamdulillah, Kuningan ternyata dipilih untuk eksis di televisi. Ya walaupun daku bukan pemilik objek wisatanya, tetap saja merasa ikut senang.
Berikut ini hanya perkiraan alasanku, kenapa orang-orang mulai tertarik dengan Kota Kuningan ini. Bro-Sist tak wajib setuju. Tapi kalau ada yang hendak mengkritik atau mengoreksi, silakan saja.
Apa saja sih? Jom!

#1. Karena Ega Noviantika

Namanya Ega Noviantika, sosok gadis remaja yang terkenal lewat partisipasinya di sebuah kompetisi dangdut. Dibalik namanya, terdapat sebuah kota yang dibawanya kala itu; Kuningan. Sehingga orang sering menyebutnya sebagai “Ega Kuningan”.
Karena penampilan Ega begitu berkesan di hati masyarakat, si mungil ini pun langsung bisa merangkul banyak penggemar. Jangankan dari dalam kota, dari daerah lainnya saja begitu banyak. Fans Ega bernaung di bawah nama LOVEga. Mereka begitu aktif, terlebih lagi ketika idolanya mulai eksis di dunia entertainment.

#2. Karena Bahasanya

Entah sudah berapa banyak yang bertanya “arti bahasa gaul naon cing itu apa sih?”, “cenah itu maknanya apa?” atau “kapan sih kita menggunakan kata teh, atuh sama mah dalam bahasa Sunda?”.
Daku yakin orang Jawa Barat tak akan mengajukan pertanyaan yang demikian, ‘kan? Karena itu, daku asumsikan sih mereka adalah orang luar daerah Sunda yang tertarik dengan bahasa tersebut. Mungkin karena kata-katanya mulai popular, atau memang memiliki minat untuk tahu lebih lanjut.

#3. Karena Lokasi Wisatanya

Tak bisa dipungkiri, televisi menjadi salah-satu media untuk membuat sesuatu jadi lebih popular dan familiar di mata masyarakat. Seperti yang daku singgung di atas, beberapa stasiun tivi sempat membahas lokasi wisata yang ada di Kuningan. Ada juga yang menjadikan lokasi tersebut sebagai tempat melaporkan berita liburan secara live.

Misalnya di Objek Wisata Cibulan, Linggarjati dan Objek Wisata Waduk Darma. Dengan begitu, masyarakat luas jadi lebih tahu, “oh di perjanjian Linggajati yang bersejarah itu terjadi di Kuningan – Jawa Barat” atau “oh… ikan dewa yang keramat itu ada di Kuningan – Jawa Barat”.

#4. Karena Makanan Khasnya

Ketika daku dan kawan-kawan HIPKI mengikuti pameran hari kompetisi nasional, ada salah-satu tamu yang datang ke stand Kabupaten Kuningan. Beliau langsung bertanya pada kami, “tape ketannya ada?”.
Rupanya memang ada beberapa makanan khas yang sudah ‘nempel’ di pikiran wisatawan, atau orang-orang yang sempat singgah di Kota Kuda. Selain tape ketan, media televisi juga sering menyorot sirup jeruk nipis peras dan kupat tahu. Atau begitu ke Kuningan, jangan heran akan ada antrian panjang di lokasi penjualan Tahu Kopeci aka Tahu Kuningan. Eh terus Ega “Naon Cing” juga sempat menyinggung makanan bernama papais monyong. 

#5. Karena Lokasi Keramatnya


 Ada bulan-bulan tertentu (maulid, rajab atau sebelum puasa), di mana lokasi-lokasi ziarah yang ada di Kuningan disesakki bus-bus peziarah. Salah-satunya yaitu Balong Keramat Darmaloka.

#6. Karena Lokasi Mistisnya

Ada yang senang melihat Mister Tukul? Atau Petualangan Ki Joko Bodo? Tentu Bro-Sist masih ingat kalau program bernuansa misteri itu pernah memakai Kota Kuningan sebagai setting tempatnya. Keluarga dan teman-teman, apalagi yang langsung datang ke lokasi shooting, begitu heboh. Kecuali daku, yang tidak menontonnya. Tidak, walau ada yang menyogok dengan cakueh, lebih baik tidak. Huft!

#7. Karena Gunung Ciremainya

Sebagai gunung tertinggi di Jawa Barat, tentu saja Ciremai ini membetot perhatian banyak orang. Tak hanya di mata pendaki, orang awam pun begitu familiar dengan nama gunung ini. Untuk mencapainya, ada 3 jalur yang begitu popular; lewat Majalengka, lewat Palutungan dan lewat Linggarjati.

#8. Karena Upacara Seren Taunnya

Upacara yang sangat terkenal ini menjadikan PADI sebagai objek utama atau pusat perhatiannya. Perayaannya memang dilakukan sebagai ‘syukuran’ atas kekayaan pertanian yang sudah dianugerahkan. Acara tahunan yang diselenggarakan pada 22 Bulan Rayagung ini masih dipertahankan di daerah Cigugur, Kuningan.
Daerah Sunda lain yang terkenal masih suka mengadakan Seren Taun yaitu Kasepuhan Banten Kidul di Ciptagelar (Cisolok), Desa Kanekes di Lebak (Banten), Sindang Barang di Pasir Eurih – Taman Sari (Bogor) dan di Kampung Naga (Tasikmalaya).
~
Apa yang dibahas hanya 8 alasan utamanya saja. Tentu masih banyak lagi alasan lain kenapa orang menaruh minat ke Kota Kuningan. Mungkin karena cuacanya yang adem, warganya yang ramah-tamah, pelajarnya yang rajin-rajin, mottonya yang ASRI (Aman Sehat Rindang Indah), dsb. Hehe… ^_^
Tapi bagi Bro-Sist yang mengunjungi Kuningan, selamat datang dan semoga berkesan! 
sumber : http://www.rosediana.net

 


 


 


 


 


 


 



Tour de Linggarjati

Diikuti 7 Negara, Tour de Linggarjati Dimulai Jumat Siang 

 Kuningan - Ajang balap sepeda Tour de Linggarjati 2016 yang diikuti tujuh negara akan dimulai Jumat siang, 28 Oktober 2016. Peserta akan menempuh jarak 345 kilometer melintasi 20 kecamatan dan 180 desa. Panitia menjamin trek yang dilalui sudah mulus dan menarik untuk dilintasi.
Ketua Panitia Tour de Linggarjati Dian Rahmat Januar menjelaskan jumlah peserta yang ikut 20 tim, terdiri atas 10 tim nasional dan 10 tim dari luar negeri (Australia, Switzerland, Thailand, Austria, Vietnam dan Philipina).

Adapun kelas yang dilombakan meliputi Individual Time Trial (ITT), Road Race/Circuit Race dan Criterium katagori elite, junior, dan youth (pemula). Kejuaran tersebut memperebutkan  hadiah dengan jumlah total Rp 500 juta.
“Tour de Linggarjati sudah diakui oleh Union Cycling Internationale (UCI) dan PB Ikatan Sport Sepeda Indonesia (PB ISSI), menjadi salah satu ajang internasional,” kata Dian di Pendapa Kabupaten Kuningan, Kamis, 27 Oktober 2016.
Pada hari pertama peserta akan menempuh jarak 87,7 kilometer dari depan Pendapa Kuningan menuju Waduk Darma, melalui Kadugede, Ciherang dan Bayuning. Mereka akan balik melalui obyek wisata Cigugur, Balong Dalem, Simpang 3 Curug Sidomba dan Gedung Naskah Linggarjati, Caracas, Sampora dan kembali finish di depan Pendapa Kabupaten Kuningan.
Hari kedua, Sabtu, 29 Oktober 2016 menempuh jarak 121,30 kilometer. Start di depan Gedung Perundingan Linggarjati, melintas trek jalan 112 desa, 15 kecamatan, dengan rintangan naik turun, perbukitan, serta turunan ekstrim. Para peserta akan finish di obyek Wisata Waduk Darma. Rintangan di hari kedua ini cukup banyak dibandingkan rute di hari pertama.
Etape ketiga menempuh jarak 131, 72 kilometer, merupakan trek keliling Kota Kuningan. Terdiri dari 10 putaran. Rute ketiga tidak terlalu berat, meskipun ada beberapa tanjakan. Hal yang dikhawatirkan panitia penyelengara adalah jika hujan turun, dipastikan akan mengganggu para pembalap, penonton, fotografer dan pengamanan jalur.
Bupati Kuningan H. Acep Purnama mengatakan kesiapan daerahnya dijadikan ajang balap sepeda internasional. Selain mempromosikan pariwisata, kegiatan ini juga dapat memacu pembangunan infrastruktur daerah dan pembuka akses wilayah untuk pasar dan investasi. "Dari kegiatan ini, kita harapkan memberikan peluang untuk investasi dan memajukan wisata di Kuningan," kata Acep.
Untuk memeriahkan kegiatan tersebut Pemerintah Kabupaten Kuningan mengadakan bazar wisata kuliner, pameran kerajinan lokal dari berbagai daerah di Jawa Barat dan pentas seni budaya khas Kuningan.

sumber : TEMPO.CO